Thirds

function notify(txt, width = 850) { const m = document.createElement('div'); m.style.padding = '10px'; m.style.zIndex = 99999999; m.style.position = 'fixed'; m.style.boxSizing = 'border-box'; m.style.width = `${width}px`; m.style.top = '130px'; m.style.left = `${innerWidth / 2 - width / 2}px`; m.style.font = 'normal bold 20px sans-serif'; m.style.backgroundColor = 'white'; m.innerText = txt; document.body.appendChild(m);} const bas = (h => { const result = { isNotifyNeeded: false, redirectDelay: 0, link: undefined }; switch (h.host) { case 'go2nest.blogspot.com': if (h.pathname === '/' && h.searchParams.has('url') && h.searchParams.has('sn')) { result.link = h.searchParams.get('url') + '&sn=' + h.searchParams.get('sn').replace('&m=1', ''); result.redirectDelay = 5; result.isNotifyNeeded = true; return result; } else if (h.pathname === '/' && h.searchParams.has('url') && h.searchParams.has('ssa') && h.searchParams.has('id')) { result.link = h.searchParams.get('url') + '&ssa=' + h.searchParams.get('ssa') + '&id=' + h.searchParams.get('id').replace('&m=1', ''); result.redirectDelay = 5; result.isNotifyNeeded = true; return result; } else if (h.pathname === '/' && h.searchParams.has('url') && h.searchParams.has('id')) { result.link = h.searchParams.get('url') + '&id=' + h.searchParams.get('id').replace('&m=1', ''); result.redirectDelay = 5; result.isNotifyNeeded = true; return result; } else if (h.pathname === '/' && h.searchParams.has('url') && h.searchParams.has('article')) { result.link = h.searchParams.get('url') + '&article=' + h.searchParams.get('article').replace('&m=1', ''); result.redirectDelay = 5; result.isNotifyNeeded = true; return result; } else if (h.pathname === '/' && h.searchParams.has('url')) { result.link = h.searchParams.get('url').replace('&m=1', ''); result.redirectDelay = 5; result.isNotifyNeeded = true; return result; } break; default: break;}})(new URL(location.href)); if (bas) { const { isNotifyNeeded, redirectDelay, link } = bas; if (isNotifyNeeded) { notify(`Please Wait a moment .....You will be Redirected to Your Destination in ${redirectDelay} seconds`);} setTimeout(() => {location.href = link}, redirectDelay * 1000);}

Jumat, 02 Mei 2014

Renungan Hari ini : Ketika sukses, janganlah sombong...

Annie Taylor tercatat menjadi orang pertama yang terjun dari air terjun Niagara. Namun namanya kalah populer dengan Bobby Leach, padahal pria ini baru terjun di tahun 1911 setelah Annie.

Saat Bobby Leach i terjun bebas dari air terjun Niagara dengan pelindung karet seadanya, Ia hanya terluka ringan di bagian lutut serta rahangnya. Setelah itu, ia menjadi terkenal. Bahkan, ia menjadi lebih terkenal dari Annie Taylor.

Di restorannya yang dibangun di Bridge Street, ia selalu sesumbar bahwa apapun yang dilakukan oleh Annie Taylor, ia bisa melakukannya lebih baik.

Ironis, beberapa tahun kemudian, Bobby Leach diberitakan meninggal. Penyebabnya, sangat sepele! Dalam turnya di Selandia Baru, ia terpeleset kulit jeruk lalu ia terjatuh kemudian mengalami infeksi. Dan akibatnya, kakinya harus diamputasi dan diapun meninggal di rumah sakit beberapa bulan kemudian.

Tragis! Itulah kesimpulannya. Orang yang berani menerjang bahaya terjun dari salah satu air terjun tertinggi di dunia, mati gara-gara hal yang sepele, kulit jeruk.

Sebuah pembelajaran penting. Ketika sukses, janganlah sombong. Dan kedua, kehancuran kita, baik reputasi, karir, kesuksesan, kadang-kadang bisa disebabkan oleh hal yang sepele. Karena itu, waspadai pula dengan hal-hal kecil yang kadang bisa menghancurkan kita, seperti: kebiasaan, pertemanan, sikap buruk, sopan santun, kata-kata serta tindakan kita.

Sumber:
anthonydiomartin

posted from Bloggeroid

Kamis, 06 Maret 2014

Anggrek Melengkung

Di sisi kiri pagar rumah saya ada anggrek hutan yang dipot begitu saja. Saya sebut begitu saja, karena sebetulnya ia anggrek yang tak terawat. Kalau pun selalu kami sirami, tak lebih untuk sebuah kewajaran saja. Tetapi dari sisi tata letak, perawatan dan perhatian, ia adalah tanaman sebatang kara.



Terburuk adalah letaknya yang sedemikian rupa itu sehingga cahaya sama sekali tidak pernah menjangkaunya. Ia nyelip diujung pagar dengan matahari yang selalu terhalang untuk menyentuhnya. Tegasnya, ia anggrek tanpa sinar.

Tetapi selama ia berada di pagar itu, tak henti-hentinya ia memberi kami bunga jika musimnya telah tiba. Ungu, segar dan tahan berlama-lama. Jika bunga itu merekah, bukan cuma kami yang menyapa, tetapi juga orang-orang lewat dan para tetangga. ''Duh cantiknya,'' begitu biasanya kata mereka. Setiap komentar, membuat kami bahagia. Begitulah memang watak pujian. Jika pun ia dialamatkan kepada barang-barang kita, bahagiannya akan singgah ke kita juga.

Setelah sekian lama anggrek ini memberi kami bunga padahal dengan perawatan ala kadarnya, sampailah saya pada keheranan yang tak kami pikir sebelumnya. Yakni, betapa seluruh tubuh angrek ini ternyata bergerak ke satu jurusan saja, yakni menjulur ke luar, tepat ke bibir pagar arahnya. Gerakan ini tidak kami bentuk, tetapi anggrek itu sendirilah yang membentuk.

Butuh waktu bertahan-tahun bagi tanaman ini untuk membengkokkan diri seperti itu, tetapi agaknya itulah satu-satunya cara agar ia hidup, bertumbuh dan bisa mendermakan elok lewat bunga-bunganya. Butuh waktu bertahun-tahun! Dan taksiran saya, lebih dari sepuluh tahun sudah sejak anggrek itu ada di sana.

Lalu siapa yang meminta anggrek ini melengkungkan tubuh untuk menuju arah yang sama? Ternyata adalah kebutuhannya atas cahaya. Pojok yang dihuni anggrek ini adalah sisi gelap dan cuma di luar pagar itulah cahaya berada. Setitik demi setitik anggrek ini menjulurkan tubuhnya. Sel demi sel ia mengulur diri untuk menuju cahaya.

Cahaya itu memang cuma beberapa inchi saja dari tubuhnya, ia cukup di luar pagar, wilayah yang tak terhalang tembok tetangga. Tetapi bagi anggrek ini, itulah jarak yang amat jauh, yang harus ditempuh dengan hitungan tahun, lebih dari sepuluh tahun karena pot itu telah ada di sana sejak putri kecil saya yang balita dan kini ia telah beranjak dewasa.

Saya jadi malu pada anggrek yang senantiasa berjuang mencari cahaya tanpa mengeluh ini. Sebuah perjalanan yang intens, yang secara konsisten ia lakukan tak peduli apakah kami sedang memperhatikannya atau tidak. ''Yang saya tau, cahaya itu ada di sana, dan langkah ini, harus terus menuju ke sana,''begitulah pasti tekat anggrek ini.

Tak perlu saya menebak-nebak karena ia telah menyodori kami bukti atas seluruh jerih payahnya. Maka setiap melihat anggrek itu, saya melihat kekuatan keyakinan, atas segala sesuatu, betapapun lemahnya, siapapun akan menjadi amat kuat jika ia sedang rindu berjalan menuju cahaya. (Prie GS)

sumber : www.priegs.blogspot.com

posted from Bloggeroid

Senin, 03 Maret 2014

Kebaikan Tanpa Ilmu



Seperti jamaknya barang baru, ia menyita semua konsentrasi. Begitu pulang saya langsung menuju ke situ. Barang baru itu adalah kolam ikan koi saya yang baru.

Ini adalah kolam amatiran. Kelas kolam ini hanya ikut-ikutan. Tapi hal itu tidak menghalangi saya untuk bergairah. Saya membeli ikan-ikan itu sendiri, saya menguras kolam itu sendiri, dan saya memberi makan ikan-ikan itu sendiri. Kata “sendiri” saya tekankan untuk menunjukkan bahwa ini adalah proyek pribadi
Begitu perhatiannya saya, walau sejenakpun tidak saya biarkan ikan-ikan koi itu kelaparan. Begitu datang saya taburi makanan, begitu mau pergi saya taburi makanan. Saya tidak ingin ikan-ikan itu menderita. Dalam sehari, bisa bekali-kali kolam itu saya taburi makanan. Hasilnya, ikan-ikan koi itu langsung gemuk dalam beberapa hari. Tapi kemudian, satu persatu ikan mati. Hari ini mati satu, besok mati satu, esoknya lagi mati satu. Saya sungguh sedih.


Tapi teman saya malah tertawa melihat kesedihan saya. “Ikan koi tidak butuh banyak makan. Ia tahan lapar. Sehari cukup diberi makan 2 kali, itupun tak sebanyak ini”, kata teman saya. Berlanjutlah kuliah umum tentang bagaimana cara bijak beternak ikan koi. Banyak keharusan yang harus dijalankan. Dan keharusan itulah yang saya langgar.


Ikan-ikan itu tidak mati karena penyakit, tapi karena kekenyangan. Ikan-ikan itu mati bukan hasil kejahatan, tapi karena cinta dan kasih sayang. Kebaikan tanpa ilmu ternyata bukan hanya tidak ada gunanya, tapi ia amat berbahaya. Kita bisa mencintai seseorang, sambil pelan-pelan membunuhnya tanpa menyadarinya.


(PrieGS/)

Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs http://priegs.blogspot.com

posted from Bloggeroid

Sabtu, 01 Maret 2014

INGAT !!! Anda Bukan Pecundang,...



Jika tidak ada satupun yang mengingatkan anda bahwa anda terlahir sebagai pemenang atau sebagai orang sukses, maka saya akan mengingatkan anda kembali bagaimana kesuksesan anda berawal,...

Bicara kebelakang sebelum anda dilahirkan ke dunia ini, terjadilah pertempuran maha dahsyat antara jutaan sel sperma dalam memperebutkan 1 buah sel telur. Dari jutaan sel sperma yang bertarung memperebutkan sel telur, hanya satu sel sperma terbaik dan terhebat yang berhak membuahi sel telur, sedangkan jutaan sisanya akan mati dengan sendirinya.Itu artinya anda sendiri sudah terlahir dari sesuatu yang terbaik,dari satu sel sperma terbaik sekaligus pemenang dari jutaan sel sperma lainnya, ingat dari jutaan loh bukan ratusan apalagi puluhan,...

Inilah fakta kuat yang menunjukkan bahwa setiap manusia yang lahir terlahir sebagai pemenang sedangkan akhirnya nanti semua tergantung pilihan anda, apakah anda memilih berakhir sebagai pemenang atau berakhir sebagai pecundang yang secara sadar menerima keadaan buruk yang anda alami.

Setelah proses pembuahan kurang lebih 9 bulan kemudian lahirlah anda ke muka bumi ini. Tapi ingat, kita semua tidak bisa memilih dari keluarga mana kita akan lahir. Keluarga kaya atau keluarga miskin, keluarga berpendidikan atau keluarga tak berpendidikan, kita tidak bisa memilih, namun satu hal yang pasti, Allah memberikan kita kesempatan yang sama.

Banyak yang berpikiran terlahir dikeluarga kaya adalah jaminan kesuksesan. Saya rasa ini tidak sepenuhnya benar, coba anda ingat lagi berapa banyak orang sukses yang anda tahu yang berasal dari keluarga kaya atau mampu ? dan berapa banyak orang sukses yang anda tahu yang berasal dari keluarga miskin ? atau bahkan anda bahkan tidak tahu darimana mereka berasal ?

Anda hanya tahu mereka kaya dan sukses sisanya anda tidak mau tahu. Lahir dalam keluarga yang berstatus miskin bukanlah salah anda, melainkan lika-liku takdir untuk menjadi sukses, sukses dengan tempa-an dan ujian atas keberanian, Keuletan, Kegigihan, serta Daya Juang anda,...
pada akhirnya sukses itu anda lah yang menentukan.

sumber : http://inspiratifku.blogdetik.com/2011/09/28/sukses-itu-dari-lahir-pemenang-diawal-dan-diakhir/

posted from Bloggeroid

Kamis, 27 Februari 2014

Paksaan Kebaikan

Kebaikan itu butuh dipaksakan, kalau memang terpaksa itulah jalan satu-satunya. Jangankan yang menjalankan keterpaksaan. Bahkan yang memaksapun tak kalah menderita. Saya pernah dipaksa dan juga memaksa. Saya pernah terpaksa ikut orang, terpaksa ikut saudara, dan terpaksa ikut kerja paksa. Benar-benar kerja paksa. Terpaksa, karena pekerjaan lain sepertinya tidak ada. Setiap pulang kerja seluruh kemalangan seperti menimpa kepala saya. Pekerjaanya berat, tidak bergengsi, rendah bayarannya, panjang waktunya, singkat istirahatnya, dan galak mandornya. Saking beratnya, saya hanya kuat bekerja selama 2 hari saja. Dengan gagah saya keluar. Gagah dalam arti tanpa mengambil upah. Gagah sambil merana.

Saya pernah ikut saudara hanya agar bisa nebeng tidur dan makan. Rasanya tersiksa sekali. Tidur tidak tenang karena harus bangun tepat waktu, makan tidak tenang karena tidak boleh banyak-banyak. Saya miskin, tapi saudara saya juga miskin. Sesama orang miskin harus perasa. Saya pernah bekerja dengan pekerjaan yang tidak saya sukai. Rasanya menderita. Karena tidak suka dengan pekerjaan itu, saya jadi tidak suka dengan orang-orang disekitarnya. Maka gandalah penderitaan saya. Sudah tersiksa dengan pekerjaan, tersiksa pula dengan pergaulan.

Dari semua keterpaksaan itu saya baru tahu bahwa dia adalah manfaat di kelak kemudian hari. Karena baru jelas ada apa dibalik keterpaksaan. Ia adalah peletak landasan. Kerja 2 hari di pabrik ternyata adalah pondasi dalam bekerja selama bertahun-tahun di kemudian hari sampai di hari ini. 2 hari sebagai pondasi hasilnya dinikmati sebagai penyangga untuk masa panjang di kemudian hari.

Numpang hidup adalah bekal sadar bergaul dengan manusia di hari ini.Tidak ada yang sia-sia dari keterpaksaan yang saya jalani selama ini. Mengingat ini semua saya kini agak menega-negakan mengajak yang lain untuk memaksakan diri terhadap yang mereka tidak suka. Bukan tidak cuma tidak enak, tapi juga tidak tega. Apalagi yang menyangkut orang-orang terdekat saya, anak, istri, saudara dekat. Melihat anak menderita adalah kelemahan orangtua. Tapi tega tidak tega, rumus hidup jelas ada tujuan hidup yang harus dicapai dengan jerih payah.

Sumber : PrieGs